Diabetes Tipe 1,5: Muncul Diam-Diam di Usia Muda, Ini Gejalanya!
Kasus Lilla Syifa (Cipa), wanita asal Surabaya yang didiagnosis diabetes tipe 1,5 di usia 29 tahun, menjadi perhatian. Tanpa riwayat keluarga diabetes dan obesitas, ia merasa baik-baik saja hingga gula darah melonjak drastis dan sempat koma. Bagaimana diabetes bisa menyerang secepat itu di usia muda tanpa disadari?
Mengenal Diabetes Tipe 1,5 (LADA)
Banyak yang hanya mengenal diabetes tipe 1 dan 2. Padahal, ada diabetes tipe 1,5 atau Latent Autoimmune Diabetes in Adults (LADA). Kondisi ini terjadi ketika sistem imun tubuh perlahan merusak sel beta pankreas yang memproduksi insulin. Prosesnya mirip diabetes tipe 1, tetapi muncul pada usia dewasa dan berkembang perlahan.
Gejala Awal yang Sering Terabaikan
Pada awalnya, kadar gula darah pada diabetes tipe 1,5 seringkali masih bisa dikontrol tanpa insulin. Penderita terlihat seperti mengalami diabetes tipe 2 karena masih merespons obat minum. Diagnosis awal sering terlewat karena situasi ini, terutama bila pemeriksaan lanjutan tidak dilakukan.
Seiring waktu, kerusakan sel pankreas terus berlangsung. Produksi insulin menurun hingga tubuh tidak mampu mengontrol gula darah. Penderita diabetes tipe 1,5 biasanya mulai memerlukan terapi insulin pada fase ini.
Faktor Risiko dan Penyebab Diabetes Tipe 1,5
Diabetes tipe 1,5 dapat terjadi pada orang dengan berat badan normal dan tanpa riwayat diabetes dalam keluarga. Faktor gaya hidup seperti konsumsi gula berlebihan, kurang aktivitas fisik, dan stres berkepanjangan bukan penyebab utama gangguan autoimun ini, tetapi dapat mempercepat munculnya gejala dan memperburuk lonjakan gula darah.
Pentingnya Pemeriksaan HbA1c
Pemeriksaan HbA1c menunjukkan rata-rata kadar gula darah dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Angka ini menggambarkan seberapa sering dan seberapa lama gula darah berada di level tinggi. Semakin tinggi nilainya, semakin besar risiko paparan gula darah terhadap pembuluh darah dan organ tubuh.
Banyak yang merasa aman dari diabetes karena hasil cek gula darahnya sesekali normal. Padahal, kadar gula darah bisa naik dan turun tergantung waktu makan, aktivitas, bahkan kondisi stres. Pemeriksaan HbA1c menjadi indikator penting untuk menilai risiko diabetes.
Interpretasi Hasil HbA1c
Nilai HbA1c yang normal di bawah 5,7 persen. Jika hasilnya 5,7 hingga 6,4 persen, ini dikenal sebagai prediabetes. Artinya, gula darah sudah mulai sulit dikendalikan dan risiko berkembang menjadi diabetes semakin besar.
Nilai HbA1c 6,5 persen atau lebih sudah masuk kriteria diabetes. Pada level ini, gula darah menetap tinggi dalam jangka waktu lama, meningkatkan risiko kerusakan saraf, pembuluh darah, ginjal, mata, hingga jantung.
Pengakuan Wanita Surabaya: Kegemaran Jajanan Manis
Cipa mengakui kegemarannya pada jajanan manis yang viral. Kebiasaan ini dianggap sebagai self-reward setelah stres bekerja. Ia bisa makan brownies, donat, minuman matcha, serta makanan dan minuman manis lainnya 3 kali sehari dan hampir setiap hari.
Kurang tidur, jarang olahraga, dan stres yang tidak terkelola memperparah kondisi. Saat kurang istirahat, sensitivitas insulin menurun. Saat stres, hormon kortisol meningkat dan mendorong gula darah naik. Kombinasi ini membuat pankreas bekerja lebih keras.
Menurut dokter yang menanganinya, diabetes yang Cipa idap disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat.
Batasan Konsumsi Gula Harian
Kementerian Kesehatan menganjurkan asupan gula tambahan tidak melebihi 50 gram per hari, atau lebih baik dibatasi hingga 25 gram. Angka ini mencakup seluruh gula tambahan dari berbagai jenis makanan dan minuman sepanjang hari.
Contoh Kandungan Gula dalam Makanan dan Minuman
Satu porsi minuman kekinian atau dessert manis bisa menyumbang sebagian besar kebutuhan gula harian. Contohnya, 1 porsi Red Velvet Cake mengandung 36 gram gula, 1 buah donat 20 gram, dan segelas matcha 30 gram.
Gejala Hiperglikemia yang Sering Diabaikan
Hiperglikemia, atau kadar gula darah terlalu tinggi, jarang datang dengan gejala berbahaya. Tanda-tandanya muncul perlahan dan kerap dianggap sebagai rasa cape karena rutinitas harian.
Gejala Awal Hiperglikemia
- Rasa haus terus-menerus
- Frekuensi buang air kecil meningkat, terutama malam hari
- Mudah lelah dan lemas
- Konsentrasi menurun
- Kram pada kaki
- Luka kecil sulit sembuh
- Kulit terasa lebih kering
Pada tahap lebih berat, hiperglikemia dapat memicu mual, penglihatan kabur, hingga penurunan berat badan. Jika dibiarkan, gula darah bisa meningkat drastis dan menyebabkan penurunan kesadaran atau koma.
Komplikasi Serius Akibat Diabetes
Hiperglikemia kronis dapat merusak pembuluh darah kecil di otak dan saraf, meningkatkan risiko stroke, gangguan saraf, hingga penurunan fungsi kognitif.
Dalam kondisi ekstrem, diabetes dapat menyebabkan koma, gangguan organ, bahkan kelumpuhan bila terjadi kerusakan saraf pada fungsi motorik akibat gula darah yang tidak terkendali.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow