Tren Rebusan & Kukusan 2026: Sehatkah? Ini Kata Ahli Gizi!

Tren Rebusan & Kukusan 2026: Sehatkah? Ini Kata Ahli Gizi!

Smallest Font
Largest Font

Sarapan dengan menu rebusan dan kukusan seperti ubi, singkong, dan jagung rebus menjadi tren di tahun 2025. Tren ini diprediksi masih akan populer di tahun 2026 seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pola makan sehat. Spesialis gizi, dr. Nathania Sutisna, SpGK dari RS Abdi Waluyo, memberikan penjelasan terkait tren ini.

Kukusan dan Rebusan: Lebih Sehat dari Gorengan?

Dokter Nathania Sutisna menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia semakin sadar akan bahaya gorengan. Makanan yang diolah dengan cara direbus atau dikukus dianggap lebih sehat karena minim penggunaan minyak dan lemak tambahan. Metode ini membantu mengurangi asupan kalori dan mencegah terbentuknya lemak trans.

"Orang-orang di Indonesia sudah lebih well educated, sudah lebih pintar lah. Dia tahu gorengan itu tidak sehat," kata dr. Nathania, Selasa (17/12/2025).

Kandungan Nutrisi Terjaga

Mengukus lebih baik dalam mempertahankan vitamin dan mineral yang larut air, seperti vitamin C dan vitamin B. Proses ini tidak melibatkan suhu tinggi atau pembakaran yang bisa merusak nutrisi. Sementara itu, merebus dapat menyebabkan sebagian nutrisi larut ke dalam air jika air rebusannya dibuang.

Pentingnya Gizi Seimbang dalam Setiap Piring

Dokter Nathania mengingatkan pentingnya keseimbangan gizi dalam setiap porsi makan. Konsumsi ubi atau singkong rebus saja tidaklah cukup karena hanya mengandung karbohidrat. Ia menyarankan untuk menambahkan sumber protein seperti telur rebus.

"Jangan juga kita cuman makan ubi kukus, singkong rebus, itu kurang. Karena dia cuma karbohidrat. Jadi misalnya kalau makan ubi ya harus ada telurnya. Telurnya yang direbus, nah itu jauh lebih bagus," jelasnya.

Manfaat untuk Jaga Berat Badan

Keseimbangan gizi sangat baik untuk menjaga berat badan. Makanan yang digoreng kalorinya bisa naik hingga 40 persen dibandingkan direbus atau dikukus.

"Karena kalau digoreng itu kalorinya bisa naik sampai 40 persen dibandingkan dengan dikukus atau direbus. Apalagi kalau yang gorengnya nyemplung semua, atau deep fried," imbuhnya.

'Isi Piringku': Pedoman Komposisi Makanan Sehat

Untuk mendapatkan komposisi yang tepat, dr. Nathania menyarankan untuk mengacu pada pedoman 'Isi Piringku' dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pedoman ini menekankan pentingnya porsi yang seimbang antara karbohidrat, sayur, lauk hewani, dan nabati.

"Untuk rebusan biasanya karbohidrat kaya ubi, singkong, jadi itu pengganti nasi. Kemudian sepertiga piring lain adalah sayur, lalu sepertiga lain adalah lauk pauk biasanya hewan dan nabati, tempe, tahu atau ikan, ayam misalnya," terangnya.

Porsi Ideal 'Isi Piringku'

  • Setengah piring diisi dengan sayur dan buah.
  • Setengah piring lainnya diisi dengan makanan pokok (karbohidrat) dan lauk pauk (protein).

Susu Bukan Lagi Penyempurna

Konsep 'Isi Piringku' menggantikan slogan '4 Sehat 5 Sempurna'. Dalam 'Isi Piringku', susu tidak lagi menjadi komponen penyempurna, melainkan sebagai sumber protein yang dapat digantikan dengan produk olahan susu atau sumber protein lainnya. Selain itu, 'Isi Piringku' juga menekankan pentingnya minum air minimal 8 gelas sehari.

Tren yang Didukung Pemerintah

Menteri Kesehatan (Menkes) juga mengapresiasi tren sarapan rebusan dan kukusan di kalangan generasi muda. Menkes menilai tren ini dapat mendorong perubahan kebiasaan jajan ke makanan yang lebih bergizi.

Dengan mengikuti pedoman gizi seimbang 'Isi Piringku', masyarakat dapat menikmati tren rebusan dan kukusan dengan optimal dan tetap mendapatkan nutrisi yang lengkap.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow