Sugar Rush pada Anak: Mitos atau Fakta? Ini Kata Dokter!

Sugar Rush pada Anak: Mitos atau Fakta? Ini Kata Dokter!

Smallest Font
Largest Font

Seringkali kita menyalahkan gula saat anak menjadi lebih aktif setelah mengonsumsi makanan manis. Istilah *sugar rush* pun muncul, dipercaya sebagai penyebab hiperaktivitas akibat lonjakan gula darah. Benarkah demikian?

Sugar Rush: Mitos atau Fakta?

Isu lama ini kembali mencuat setelah dr. Meta Hanindita, SpA, seorang dokter anak dan konsultan nutrisi, menyebut bahwa konsep *sugar rush* adalah mitos. Meski asupan gula berlebih berdampak negatif, pernyataan ini memicu perdebatan di kalangan ahli. Lantas, benarkah gula memicu hiperaktivitas pada anak?

Untuk memahami perdebatan ini, kita perlu mengenal apa itu *sugar rush*. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika anak tampak lebih aktif setelah mengonsumsi makanan manis. Pemahaman awam mengaitkannya dengan lonjakan kadar gula darah yang memberikan "energi berlebih" secara tiba-tiba.

Namun, *sugar rush* bukanlah istilah medis resmi. Anggapan ini muncul dari pengalaman sehari-hari orang tua, terutama saat anak mengonsumsi makanan manis dalam situasi tertentu.

Penelitian Membantah Efek Gula pada Hiperaktivitas

Keraguan terhadap konsep *sugar rush* mendorong penelitian lebih serius. Kajian di *Journal of the American Medical Association (JAMA)* oleh Wolraich dkk. menunjukkan bahwa anak yang mengonsumsi gula tidak terbukti lebih hiperaktif. Penelitian lain di *Journal of Affective Disorders* oleh Del-Ponte dkk. juga tidak menemukan kaitan antara asupan gula dan risiko ADHD.

Menariknya, perubahan perilaku anak lebih sering dilaporkan orang tua dibandingkan saat diamati langsung oleh peneliti. Hal ini menimbulkan bias, di mana keyakinan awal orang tua memengaruhi cara mereka menilai perilaku anak.

Sejumlah penelitian menilai bahwa konsep *sugar rush* lebih dipengaruhi oleh bias persepsi dan faktor situasional daripada efek biologis gula. Dengan kata lain, cara perilaku anak ditafsirkan yang berubah, bukan perilaku anak itu sendiri.

Faktor Lain yang Memengaruhi Perilaku Anak

Anak yang aktif setelah mengonsumsi makanan manis belum tentu bereaksi terhadap gula. Perilaku tersebut bisa dipengaruhi oleh suasana ramai, aktivitas bermain yang seru, atau momen perayaan.

Anak yang aktif dan bersemangat tidak selalu menunjukkan masalah perilaku atau gangguan tertentu. Pemahaman ini penting dalam membahas ADHD, yang sering disalahpahami. ADHD adalah kondisi neurodevelopmental yang berkaitan dengan perkembangan otak sejak dini, bukan disebabkan oleh pola asuh yang salah, kebiasaan makan, atau konsumsi gula.

Menghindari gula sepenuhnya tidak otomatis menghilangkan gejala ADHD. Pola makan tetap berperan dalam menjaga energi, fokus, dan emosi anak agar lebih stabil, bersama dengan faktor lain seperti tidur yang cukup dan lingkungan yang mendukung.

Penyebab ADHD yang Sebenarnya

ADHD merupakan gangguan neurodevelopmental multifaktorial yang berkembang melalui interaksi berbagai faktor sejak masa awal perkembangan otak. Beberapa faktor tersebut adalah:

  • Genetika: Studi menunjukkan bahwa ADHD memiliki tingkat heritabilitas yang tinggi.
  • Neurobiologis: Penelitian menemukan perbedaan struktur dan fungsi otak pada individu dengan ADHD.
  • Prenatal dan Perinatal: Paparan alkohol atau tembakau selama kehamilan, kelahiran prematur, serta berat lahir rendah dapat meningkatkan risiko ADHD.
  • Lingkungan Awal Kehidupan: Faktor lingkungan pada masa awal kehidupan turut memengaruhi risiko ADHD.

Para peneliti menegaskan bahwa tidak ada satu penyebab tunggal ADHD. Kondisi ini berkembang melalui kombinasi berbagai faktor yang memengaruhi cara otak tumbuh dan berfungsi.

Pengaruh Gula pada Gejala ADHD

Meski bukan penyebab ADHD, pola makan, termasuk konsumsi gula, dapat memengaruhi bagaimana gejala ADHD muncul dan dikelola sehari-hari. Konsumsi gula berlebihan dapat membuat gejala seperti sulit fokus atau impulsivitas terasa lebih menonjol, terutama jika disertai kurang tidur dan pola makan yang tidak seimbang.

Pola konsumsi tinggi gula sering kali berkaitan dengan kualitas pola makan yang lebih rendah secara keseluruhan, seperti rendah asupan protein, serat, dan mikronutrien penting. Kondisi ini dapat memengaruhi fungsi kognitif dan regulasi emosi anak.

Batasan Konsumsi Gula yang Dianjurkan

Membatasi gula bukan berarti melarang anak sepenuhnya dari makanan manis. Perhatikan jumlah, frekuensi, dan konteks konsumsinya. *World Health Organization (WHO)* merekomendasikan asupan gula tambahan tidak lebih dari 10 persen dari total energi harian, atau idealnya di bawah 5 persen.

Pada anak usia sekolah, batas ini setara dengan sekitar 25 gram gula tambahan per hari, atau kurang lebih enam sendok teh gula. Jumlah ini bisa dengan mudah tercapai hanya dari satu botol minuman manis kemasan.

Jenis Gula yang Perlu Dibatasi

Gula tambahan adalah gula yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman, seperti pada minuman manis, permen, biskuit, kue, sereal manis, serta camilan dan makanan ultra-proses. Jenis gula inilah yang perlu dibatasi karena umumnya tidak disertai zat gizi penting.

Sementara itu, gula alami yang terdapat dalam buah dan susu tidak termasuk dalam kategori ini, karena hadir bersama serat, protein, dan mikronutrien lain yang membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam tubuh.

Pentingnya Memahami Perilaku Anak

Penting untuk membedakan antara perilaku anak yang sesekali tampak lebih aktif dengan kondisi ADHD yang merupakan gangguan perkembangan saraf. Menyamakan keduanya berisiko membuat orang tua salah menafsirkan perilaku anak.

Perdebatan soal *sugar rush* mengingatkan bahwa perilaku anak tidak bisa dijelaskan secara instan atau disederhanakan hanya pada satu jenis makanan. Hiperaktivitas dan ADHD adalah isu yang jauh lebih kompleks, melibatkan perkembangan otak, lingkungan, pola asuh, dan keseharian anak.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow