Gelombang Penutupan Sekolah di Korsel: Dampak Angka Kelahiran Rendah

Gelombang Penutupan Sekolah di Korsel: Dampak Angka Kelahiran Rendah

Smallest Font
Largest Font

Gelombang penutupan sekolah melanda Korea Selatan. Lebih dari 4.000 sekolah dasar hingga menengah atas terpaksa mengakhiri kegiatan belajar mengajar akibat merosotnya jumlah siswa. Krisis demografi menjadi penyebab utama.

Ribuan Sekolah Tutup Permanen

Data Kementerian Pendidikan Korea Selatan menunjukkan bahwa 4.008 sekolah di berbagai wilayah telah ditutup karena kekurangan murid. Angka ini diungkapkan oleh anggota parlemen Jin Sun-mee dari Partai Demokrat Korea Selatan.

Penutupan sekolah paling banyak terjadi di tingkat sekolah dasar. Sebanyak 3.674 sekolah dasar terpaksa ditutup secara permanen. Selain itu, 264 sekolah menengah pertama dan 70 sekolah menengah atas juga mengalami nasib serupa.

Dalam lima tahun terakhir, 158 sekolah telah berhenti beroperasi. Ironisnya, 107 sekolah lainnya diperkirakan akan menyusul dalam lima tahun mendatang.

Penyebab Utama: Angka Kelahiran Terendah di Dunia

Angka kelahiran di Korea Selatan menjadi faktor utama dari penutupan sekolah ini. Negara ini memiliki total fertility rate (TFR) terendah di dunia, yang terus berada di bawah 0,8. Padahal, TFR ideal untuk menjaga populasi tetap stabil adalah 2,1 anak per perempuan.

Disparitas Wilayah: Provinsi Lebih Terdampak

Laju penutupan sekolah menunjukkan bahwa penurunan jumlah murid lebih cepat terjadi di wilayah provinsi dibandingkan ibu kota. Provinsi Jeolla Utara mencatat jumlah penutupan sekolah terbanyak, yaitu 16 sekolah. Kemudian disusul Jeolla Selatan (15 sekolah), Gyeonggi (12 sekolah), dan Chungcheong Selatan (11 sekolah).

Proyeksi Mengerikan: Jumlah Siswa Terus Menyusut

Gambaran demografi Korea Selatan secara keseluruhan menunjukkan bahwa penyusutan ini kemungkinan akan semakin parah dalam beberapa tahun mendatang.

Prediksi Jumlah Siswa Menyusut Drastis

Korean Educational Development Institute memperkirakan jumlah siswa sekolah dasar hingga menengah atas mencapai 5,07 juta tahun ini. Namun, angka ini diproyeksikan turun menjadi 4,25 juta pada tahun 2029. Artinya, akan ada penurunan lebih dari 800.000 siswa hanya dalam enam tahun.

Jumlah tersebut bahkan kurang dari setengah angka siswa pada era 1980-an yang mencapai lebih dari 10 juta orang.

Aset Publik Terbengkalai: Pengelolaan Sekolah yang Ditutup

Data kementerian juga mengungkap masalah serius terkait pengelolaan sekolah-sekolah yang telah ditutup. Dari total 4.008 sekolah, 376 lokasi masih belum dimanfaatkan.

Ratusan Sekolah Dibiarkan Kosong Bertahun-tahun

Sebanyak 266 sekolah telah terbengkalai selama lebih dari 10 tahun. Bahkan, 82 sekolah lainnya dibiarkan kosong selama lebih dari 30 tahun.

Kritik Parlemen: Pemborosan Aset Publik

Kantor Jin Sun-mee menilai data tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lanjutan dan pemanfaatan kembali fasilitas sekolah tertinggal jauh dibandingkan laju penutupannya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan pemborosan aset publik.

"Jumlah sekolah yang telah ditutup sangat besar dan akan terus bertambah seiring menurunnya jumlah siswa," ujar Jin, dikutip dari South China Morning Post.

Pemerintah Diminta Bertindak Cepat

"Pemerintah tidak boleh berhenti pada sekadar menutup sekolah, tetapi harus menyusun peta jalan jangka panjang untuk mengalihfungsikannya menjadi aset bagi komunitas lokal," kata Jin.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow