Mitos 'Mengandung Susu': Masyarakat Perlu Cermat Baca Label Pangan
Ramainya perbincangan produk berbasis susu membuka persoalan penting: pemahaman masyarakat tentang label pangan. Konsumen sering keliru menganggap minuman berlabel "mengandung susu" otomatis kaya gizi seperti susu murni. Padahal, klaim tersebut bisa menyesatkan jika tidak dibaca dengan cermat.
Salah Persepsi Klaim "Mengandung Susu"
Kajian ilmiah dalam jurnal *Public Health Nutrition* menunjukkan bahwa konsumen seringkali terbatas dalam memahami arti informasi pada label gizi. Akibatnya, klaim pada kemasan disalahartikan sebagai gambaran langsung nilai gizi produk secara keseluruhan.
Klaim "mengandung susu" sering disalahartikan sebagai jaminan produk kaya protein dan kalsium seperti susu murni. Padahal, istilah "mengandung" hanya menunjukkan adanya unsur susu, tanpa menjelaskan proporsinya.
Cowburn dan Stockley dalam *Public Health Nutrition* mencatat bahwa konsumen mengaitkan klaim pada kemasan dengan kualitas gizi lebih tinggi, meskipun kandungan zat gizi utama seperti protein rendah.
Untuk memahami kontribusi suatu bahan terhadap gizi produk, konsumen perlu melihat susunan bahan yang digunakan.
Pentingnya Memahami Daftar Komposisi
Salah satu aspek literasi pangan yang sering diabaikan adalah daftar komposisi bahan. Di Indonesia, bahan wajib ditulis berdasarkan urutan jumlah terbanyak hingga paling sedikit, sesuai ketentuan BPOM. Urutan ini memberikan gambaran nyata tentang zat yang paling banyak dikonsumsi tubuh dari suatu produk.
Kajian Didem van der Merwe dkk. dalam *Public Health Nutrition* menunjukkan bahwa banyak konsumen membaca daftar komposisi, tetapi belum memahami bahwa urutan bahan mencerminkan kontribusi terbesar terhadap kandungan gizi.
Jika gula atau air tercantum di urutan awal sementara susu di bagian akhir, secara gizi kontribusi utama minuman tersebut berasal dari gula atau cairan, bukan dari susu.
Dampak Konsumsi Gula Berlebih
Secara gizi, tubuh merespons zat yang dikonsumsi dalam jumlah paling besar. Pada banyak minuman rasa susu, sumber energi utama justru berasal dari gula tambahan, bukan dari protein atau lemak susu.
Frank Hu dkk. dalam *The New England Journal of Medicine*, menjelaskan bahwa gula cair memberikan kalori cepat namun minim zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh.
Risiko Minuman Bergula bagi Anak-anak
Konsumsi rutin minuman bergula dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan pada anak.
Malik dkk. dalam *The American Journal of Clinical Nutrition* menunjukkan bahwa minuman bergula memiliki efek kenyang yang rendah dan berkontribusi pada peningkatan asupan kalori harian.
Ludwig dkk. dalam *The Lancet* melaporkan kaitan antara konsumsi minuman manis dengan peningkatan risiko kelebihan berat badan dan obesitas pada anak. Asupan gula bebas yang tinggi juga berhubungan dengan meningkatnya gigi berlubang (karies).
Cara Membaca Label Minuman yang Tepat
Membaca label tidak cukup hanya melihat klaim "mengandung susu", tetapi perlu memperhatikan informasi nilai gizi dan daftar bahan secara menyeluruh. Berikut panduan sederhana membaca label minuman yang perlu diperhatikan konsumen:
Nama Produk
Nama produk menentukan kategori pangan, apakah itu susu, minuman susu, atau minuman rasa susu. Nama pangan harus mencerminkan karakter utama produk, bukan sekadar bahan yang terkandung di dalamnya.
Tabel Gizi
Semua angka pada tabel gizi dihitung per takaran saji, bukan per kemasan. Satu kemasan bisa berisi lebih dari satu sajian.
Daftar Bahan
Daftar bahan ditulis dari yang paling banyak hingga paling sedikit. Bahan yang berada di urutan pertama adalah zat yang paling besar kontribusinya terhadap asupan tubuh.
Waspadai Gula Tersembunyi
Jika gula, sirup glukosa, atau pemanis lain berada di urutan awal, berarti produk tersebut secara gizi lebih berfungsi sebagai sumber kalori cepat. Gula tambahan memberikan energi tanpa zat gizi penting dan sebaiknya dibatasi, terutama pada minuman.
Perhatikan Kandungan Protein
Protein menjadi indikator penting kualitas gizi, khususnya pada produk berbasis susu. Produk yang dipersepsikan sebagai "bergizi" seharusnya memberikan kontribusi protein yang nyata, bukan hanya rasa atau kalori.
Gula Alami vs. Gula Tambahan
Gula alami seperti laktosa berasal dari susu, sedangkan gula tambahan ditambahkan saat proses produksi. Konsumen dianjurkan lebih waspada terhadap gula tambahan, karena berhubungan dengan peningkatan asupan kalori tanpa manfaat gizi utama.
Literasi Pangan untuk Pilihan yang Lebih Baik
Keterbatasan pemahaman label membuat konsumen rentan menyamakan citra pemasaran dengan kualitas gizi yang sebenarnya. Dengan literasi pangan yang baik, konsumen dapat menilai produk berdasarkan kontribusi gizinya secara nyata, bukan sekadar dari kesan "sehat" yang dibangun pada kemasan.
Polemik seputar produk berbasis susu menjadi momentum untuk meningkatkan literasi pangan. Konsumen yang mampu memahami label, komposisi, dan klaim gizi akan lebih siap membuat pilihan pangan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.
Pada akhirnya, perdebatan soal minuman berbasis susu tidak perlu berhenti pada istilah atau klaim di kemasan. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami apa yang benar-benar dikonsumsi tubuh, sehingga pilihan pangan dibuat secara sadar gizi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow